What Was I Thinking?

Berulang kali kalimat tersebut terbersit di pikiran saya saat awal Gya hadir dalam keluarga kami. Saya, si penyuka keteraturan, sudah susah payah beradaptasi dengan kondisi “punya anak” hingga sekarang Igo berada di tahap di mana saya sudah mulai bisa santai. Dari sisi finansial pun sudah ada pola baru yang bisa kami jalani dengan cukup “lega”. Lalu … 25 Juni lalu semuanya gonjang-ganjing. Halah … harusnya, mah, berasa gonjang-ganjing dari sebelum memutuskan hamil, ya? Hahahaha.

Kalau ditanya apa yang membuat saya “berat” untuk tambah anak, jawaban saya bukan dana pendidikan (saya percaya rezeki sudah diatur oleh-Nya dengan catatan kita berusaha maksimal dan tidak mismanagement (plus tidak banyak mau) pasti bisalah, hehe) ataupun sakitnya kontraksi saat mau melahirkan melainkan fase awal bayi baru lahir di mana kita seringkali begadang, waktu tidur berkurang drastis, dan sering merasa overwhelmed karena ada makhluk kecil bergantung pada saya. 

“What was I thinking?”

Kalau dulu pas Igo, nggak ada anak kecil lain yang memiliki hak sama untuk mendapatkan perhatian kami. Sekarang, nggak cuma adaptasi dengan adanya bayi baru tapi juga adaptasi di rumah ada dua anak kecil dengan kebutuhan berbeda. Plus, nggak hanya kami yang belajar adaptasi tapi juga si kakak baru. Igo antusias banget punya adik, bahkan adik perempuan sekali pun. Biasanya, kan, kalau anak laki maunya punya adik laki-laki juga. But not Igo. Menurutnya, laki atau perempuan sama saja asal sehat dan bisa main bareng. Haha. Secara usia, mungkin Igo lebih siap punya adik sekarang ketimbang dua tahun lalu. Tapi namanya juga anak-anak, sebisa-bisanya ia bersikap dewasa tetap saja ada masa di mana ia menjadi anak-anak. Maunya ayah dan ibu hanya memerhatikan dia saja, nggak disambi lihat Gya. Dan kami pun saling mengingatkan untuk tidak punya standar terlalu tinggi buat Igo bersikap sebagai kakak.

“What was I thinking?”

Sekarang, memasuki bulan ketiga usia Gya, kami sudah ada ritme baru yang cocok untuk semua. Ritme ini mungkin akan sedikit mengalami perubahan lagi saat saya kembali bekerja full time tapi saya yakin seperti halnya dulu waktu Igo … petualangannya nggak akan kalah seru. Ah, buat apa dulu berpikir, kok, mau saja mengulang siklus … toh, kami sudah memutuskan untuk tambah anak, Allah pun memberkahi kami dengan anak yang sehat (plus sangat kooperatif, haha). Alhamdulillah.

Terima kasih sudah memilih keluarga kami, Gya🙂

4 thoughts on “What Was I Thinking?

    • Hai Desy, salam kenal juga🙂
      Terima kasih sudah main-main ke sini.

      O, ya? Wah, semoga dirimu segera dikaruniai tambahan buntut, ya. Ikhlas … semua akan terjadi pada waktu-Nya, bukan waktu manusia🙂

      Tos dari Gya …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s