Generasi Gadget

Haha … kemarin baca blogpost Lita soal telepon seluler jadi mau ikutan mengenang sejarah per-gadget-an saya. Sepanjang ingatan, sih, saya seperti halnya pacar, saya tipe setia. Saaadddaaaaaap! Kalau nggak perlu-perlu amat, nggak akan ganti gadget. Pokoknya ganti itu kalau kebutuhannya sudah berubah dan tentu, rezekinya juga. Hahaha. UUD. Sebelum pakai telepon seluler, yaaaa, standar pergaulan anak muda pada zamannya lah … pakai pager. Telepon seluler pertama saya itu dipinjamkan sama Mama, yang mana akhirnya jadi HM. Gini asal mulanya:

Motorola 9800

Seingat saya, sih, tipenya yang ini. Nomornya 082 alias Komselindo. Hahaha. Tebal banget, bok, kalau di dalam tas berat abis. Keypad-nya butuh tenaga agak lebay untuk pencet. Isi baterainya juga yang masih mesti dicabut dulu lalu di-charge pakai alat khusus. Refotlah. 

Siemens C25

Nah, sama, nih, dengan Lita … saya dulu sempat pakai Siemens C25. Belinya di Roxy, ditemani Febri. Nomor sudah berubah jadi GSM, dikasih si Papa waktu zamannya orang berebut beli nomor cantik mahal-mahal. Dan, ya, nomor tersebut bertahan sampai sekarang, lho. Sudah berapa belas tahun coba, tuh. Bedanya sekarang saya ubah jadi pascabayar.

Nokia 3315

Hahaha. Si Siemens akhirnya dipakai Febri dan saya pindah ke merek yang lagi booming saat itu. Ya, lumayanlah, bisa membunuh waktu dengan main game Snake. Hihihi. Ingat banget dulu Febri suka bikin nada dering sendiri dengan memasukkan kunci-kunci ke telepon ini.

Nokia 3660

Ikutan kuis di TV sama Febri dan kami menang juara pertama … dapat hadiah uang tunai lumayan banget! Pas bener Nokia rilis telepon “warna” ini, pakai kamera. Ya, beralihlah ke era baru. Hahaha.

Nokia 6670

Lupa juga kenapa ganti ke tipe ini. Sepertinya, sih, karena mau telepon yang lebih langsing, deh. Dan pakai tipe ini lumayan lama, lho, lebih dari 4 tahun kalau nggak salah ingat.

Blackberry dan Android

Nah, sampai juga ke era masa kini. Ganti ke Blackberry karena si Nokia di atas sudah mulai ndrut-ndrutan. Plus kalau dihitung secara bulanan, sepertinya lebih ekonomis pakai Blackberry karena hemat pulsa SMS. Hahaha. Pindah ke Blackberry juga berujung pada menjalin kembali silaturahmi anak-anak B2B Rumpis yang dulu ngumpulnya di YM dan lantas terbentur kebijakan IT kantor masing-masing. Hahaha. Langsung cusss lah bikin grup BB.

Lama kelamaan kebutuhan kerja membuat saya harus berpikir untuk beralih dari Blackberry. Mulailah melirik Android dengan layar cukup besar. Dan ternyataaa, cukup membuat hidup ini lebih mudaaaah. Mau pindahkan file, gancil. Mau koordinasi lewat email juga capcus. Terkoneksi juga ke PC. Sisi plusnya sekaligus mencakup sisi negatif: ya, kerjaan bisa diakses di mana saja. Akibatnya, ya, kudu lebih jelas menaruh batasan. Mosok akses terus menerus tanpa kenal waktu? Sekarang saya pakai Samsung Galaxy Grand Duos. Sudah cukup bisa mengakomodir, sih. Tapi kalau dikasih rezeki lebih, mau ganti ke yang RAM-nya lebih besar, deh. Amin.

Kalau pemirsa, sejarah telepon selulernya gimana? Seru nggak? :p

8 thoughts on “Generasi Gadget

  1. ada yang sama hpnya. Siemensnya sama. Awet banget dulu, belinya dari temen bapak yang nemu di angkot yang gatahu punya siapa. Hihihihi. Setelah itu Nokia sampe lama, Sony ericsson trus ganti BB dan kemudian android. Paling suka sih sama Sony Ericson seri walkman.😀

    • Haha itu Siemens legendaris, ya. Gue nggak sempat pakai SE … kurang suka.
      Kalau Symbian memang paling oke, ya, Nokia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s