The Greatest Wealth is Health

Oke, per Sabtu lalu resmilah 2014 menjadi tahun di mana saya superakrab dengan dokter. Pokoknya meng-abuse jaminan kesehatan dari kantor bangetlah. Dimulai dari waktu hamil … jelaslah, ya, konsul tiap bulan lalu lanjut ke konsul dua mingguan dan lalu seminggu sekali. Setelah hamil, masih tetap akrab rupanya. Ulu hati suka terasa mbededeg. Memutuskan untuk konsul ke dokter penyakit dalam dan menjalani pengobatan, sedikit membaik tapi lantas memburuk lagi. Pindah dokter, disarankan endoskopi … hyuk, mari. Mana akhir tahun batas asuransi menipis, ahahaha *garuk aspal Baiklah patuh sama Pak Dokter, saya endoskopi. Hasilnya? Usus dan lambung ada luka. Sebabnya? Karena pola makan cukup oke, diduga maag dipicu stres. Hadeh. Kembali konsumsi obat dan Alhamdulillah sekarang jauh membaik😀

Selesaikah perjalanan Manda dan Para Dokter? Ternyata tidak. Gigi belakang kiri, kok, terasa semriwing, ya … hmm. Lihat di cermin, ah … tambalan ada yang chipped. Besoknya rasa nggak nyaman itu hilang. “Oke, Alhamdulillah sekali, ya,” pikir saya. Eng ing eng, salah besar. Dua hari kemudian nggak cuma semriwing TAPI leher atas dan telinga ikutan sakit. Huhu. Jadilah saya konsul ke dokter gigi … tapiiii waktu di kursi dokter rasa sakitnya hilang blas. Dokter minta rontgen supaya lihat posisi tepat gigi bungsu (belakang gigi yang sakit). Ah, lantas dia bilang, “Sepertinya gigi bungsu yang berulah, deh, nih, Mbak. Coba rontgen panoramik dan jadwalkan operasi, ya.” DHUENG.

Saya superpenakut. Melahirkan normal dua kali tidak lantas membuat saya jadi lebih berani menghadapi jarum suntik. Akhirnya … mau nggak mau, saya jadwalkan operasi gigi itu. Hari H, ternyata Pak Dokternya masih muda dan komunikatif sekali. Walaupun penakut tapi saya lebih suka kalau dijelaskan detail proses yang akan saya lalui. Dokternya bilang suntiknya nggak sakit, hanya akan kaget saja. Eh, betul, lho. Sepanjang tindakan Pak Dokter terus update saya. Tindakan hanya menghabiskan waktu 20 menit, itu pun karena posisi gigi sulit dijangkau jadi harus dibelah dua dulu baru bisa dicabut. Proses penyembuhan, Alhamdulillah, berjalan lancar. Bengkak mulai hari kedua dan mulai kempis di hari keempat pascaoperasi. Selama penyembuhan, makan nggak menemui masalah. Paling dua hari pertama saya makan yang lunak-lunak supaya nggak perlu mengunyah, haha.

Mudah-mudahan setelah ini selesai, saya nggak harus terlalu akrab sama para dokter, yaaa. Eh, tapiii … sebelum operasi gigi bungsu dimulai Pak Dokter menjelaskan kalau ada kemungkinan gigi depan si bungsu yang berulah karena kuman tembus sampai ke dekat saraf. Kalau setelah gigi bungsu dicabut dan sakit masih terasa, artinya saya harus check up lagi dan mulai perawatan saraf. OH, NO!

 

8 thoughts on “The Greatest Wealth is Health

  1. mama igo, menyusuikah? gapapa ya busui operasi gigi bungsu? aku skrg lagi hamil nih dan gigi bungsuku berulah mulu. pengen rasanya kuoperasi klo abis lahiran. grr…

    • 😀 kebetulan sudah nggak, Mbak. Tapi coba konsultasi dulu, deh, soalnya gigi itu, kan, sarang kuman banget, ya, takutnya kalau bengkak karena kuman bisa menjalar ke mana-mana. Sehat-sehat terus, yaaaa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s