Blah Blah Blah

Saya orangnya cenderung malas berbasa-basi. Kemalasan ini agak bisa ditekan setelah bergabung di kantor sekarang di mana seringkali saya berada di dalam situasi di mana basa-basi sangat dibutuhkan, apalagi pekerjaan saya berhubungan dengan koordinasi acara yang mengharuskan diri ini lebih luwes. Tapi tetap ada situasi yang bagi saya nggak perlu basa-basi, misalnya di antrean dokter atau di ruang ganti pospak anak/ruang menyusui. Paling banter saya hanya senyum ke sesama “pengunjung” atau kalau diperlukan, menjawab pertanyaan (jika ada yang memutuskan untuk berbasa-basi lebih dulu) dengan ramah tapi tetap singkat dan padat.  Bukannya apa tapi biasanya pertanyaan basa-basi soal anak itu berkaitan sama isu sensitif, seperti ASI dan makanan buatan rumah, yang mudah memicu perdebatan atau air mata … ahahaha. Nggak percaya?

Minggu kemarin kami mampir ke Bintaro Xchange dan first stop kami adalah ruang ganti pospak anak/menyusui karena pospak Gya perlu diganti. Saat saya masuk, changing station sedang dipakai dan saya memutuskan untuk menggantikan pospak Gya di sofa two seater. Di sofa ada seorang ibu muda, sebut saja A, dan mamanya yang sigap memberikan ruang untuk saya dan Gya sambil berbasa-basi, “Mau nenenin, ya?” Saya lantas menjawab tidak, hanya mau ganti pospak saja. Selang satu-dua menit masuk lagi seorang ibu muda, sebut saja B, yang terlihat menggendong anak berusia 3 bulanan. Dari gerak-geriknya saya menebak B adalah first time mom. A dan mamanya lantas sigap lagi memberikan ruang pada B sambil melontarkan pertanyaan yang sama, “Mau nenenin, ya?” dan B menjawab hal yang sama dengan saya. Tapi entah kalimat jawabnya gimana, kok, percakapannya jadi lanjut jadi bahas soal susu dan ASI. Saya juga nggak terlalu ngeh karena Gya uget-uget banget pas diganti pospaknya. Samar-samar saya dengar A dan mamanya seperti memertanyakan kenapa B nggak ASI eksklusif padahal semua orang juga tahu ASI adalah yang terbaik. “Nah, begini begini ini, nih, yang bikin males,” pikir saya. Akhir percakapan mereka nggak saya sangka sama sekali … B berkata, “Aku sudah nikah beberapa tahun tapi belum punya anak. Masalahnya ada di aku. Tapi Alhamdulillah sekarang kami sudah punya anak, adopsi.” DHUENG.

Sekilas saya lihat A dan mamanya terlihat salah tingkah lalu mereka buru-buru keluar ruangan. Lalu saya nengok ke B, ia seperti menahan air mata😦 Ya, saya yang lempeng pun tahu detik itu adalah contoh situasi yang membutuhkan basa-basi. Saya cuma bilang, “Yah, nggak usah dimasukin ke hati. Kita nggak perlu menjelaskan diri kita ke orang lain, kok.” Lalu B membalas, “Kok, gitu banget, ya, Mbak … kesannya aku dosa banget. Segituya, ya?” Uhm, ya, gitu, deh. *nyengir

Nah, karena saya malas dikasih 3B–basa-basi busuk–jadi saya punya aturan untuk diri sendiri soal isi basa-basi. Sebenarnya standar, sih … ya, coba bayangkan diri kita kalau di posisi lawan bicara saja. Saya selalu menghindari topik “Kok, belum … (isi sendiri)?” dan pertanyaan seputar anak yang kiranya sensitif. Contoh topik “Kok, belum … (isi sendiri)?” itu macam-macam … belum nikah, belum punya pacar, belum hamil, belum hamil anak kedua (ketiga, dst). Pertanyaan seputar anak yang biasanya saya hindari adalah soal susu, makanan pendamping, membahas perkembangan anak terlalu dalam (soalnya nanti berkembang jadi ajang anak siapa yang lebih oke). Haha awalnya susah, ya, secara kadang basa-basi, kan, yang keluar spontan saja gitu tapi kalau dipaksa biasa bisa, kooook.

6 thoughts on “Blah Blah Blah

  1. eyaampun, bisa gitu banget ya basa basinya si Ibu itu. Parah itu mah mba. selectively social juga sih saya. padahal kerjaan marketing.😀

  2. duh ngebahas masalah anak dan perintilannya emang suka bikin hati gak nyaman, kdg klo posting foto biyyu di media sosial suka dapet pertanyan kok bisa sih badannya gede sekel ipel2, aku bilang ya makan biasa nanti dijawab anaknya juga makan mangnya gak dikasi makan, rempong kan yaa jawabnya padahal ada jg yang bilang si bocah udah hampir overweight tuh haha *lap kringet* -_-“

  3. hi mbak, lam kenal… stuju aku juga malas 3b sama orang yg ga dikenal paling juga cm senyum2 aja. soalny pernah juga ngalamin di posisi kyk si B saat nunggu ngantri di dsa dan itu bikin ga nyaman plus nyesek.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s