Bukan Ikut Tren Bebatuan

“…. coba, deh, Man, minta USG abdomen. Gue curiga lo batu empedu kayak gue kemarin …”

JRENG! Apa, ya, sih, saya ada batu empedu? Sejak sebelum hamil Gya … berarti kurang lebih 1.5 tahun lalu saya memang sering merasa masuk angin. Ulu hati rasanya seperti penuh, nafas agak berat, dan punggung atas terasa pegal. Seperti kebanyakan orang Indonesia, saya pun ‘mengobatinya’ dengan kerokan. Hihihi. Dan keluhan selalu teratasi. Waktu hamil Gya, ulu hati terasa seperti penuh makin sering terasa … “Ah, tapi wajarlah kalau hamil gini,” pikir saya. Hingga November lalu serangan perut kembung, sebah, masuk angin itu naik kelas … susah mendeskripsikannya … yang pasti tidak terasa perih atau mual tapi berhasil membuat saya macam cacing kepanasan karena nggak ada posisi yang nyaman; duduk senderan, duduk tegak, telentang, tidur miring. Semua nggak enak!

Dari deskripsi saya, Mama menyuruh saya konsultasi ke dokter spesialis GERD (gastroesophageal reflux disease, penyakit yang timbul akibat ada reflux (aliran membalik) isi lambung ke esofagus (pipa saluran pencernaan)). Oke, nurut. Saya jalani pemeriksaan hingga endoskopi. Vonisnya? Maag biasa. Terapi obat saja. Kelarkah? Ya. Tapi, kok, di akhir tahun keluhannya kembali lagi, ya? Tak jarang saya terbangun tengah malam, meringkuk menahan sakit, dan baru tidur kembali jelang subuh. Singkat cerita, saya kembali ke dokter dengan kondisi tidak bisa berjalan tegak … lantas saya diminta rawat inap dan USG abdomen. Ada dua batu dengan ukuran di atas 1.5 cm beserta endapan di sepanjang dinding kantung empedu. Konsul dengan spesialis bedah digestif, diputuskan harus segera laparoskopi pengangkatan kantung empedu. Ternyata kantung empedu saya radang cukup parah dan bengkak pula, berisiko pecah (yep, persis seperti usus buntu). Dokternya heran, dia bilang kalau kondisinya sudah seperti saya biasanya kolaps atau setidaknya tidak bisa beraktivitas normal … saya? Alhamdulillah masih kuat ke sana kemari. Dokter juga bilang kalau kasus kantung empedu radang sekarang sudah umum banget tapi masih banyak yang belum aware. Mungkin kalah pamor dengan usus  buntu *halah*.

 

Apa, sih, batu empedu itu?

Empedu adalah cairan yang diproduksi oleh liver, disimpan dan dipekatkan dalam kantong empedu. Setiap hari tubuh kita menghasilkan 0,5 – 1 liter empedu, sedangkan kapasitas kantongnya hanya 50 ml.  Cairan empedu diperlukan untuk mencerna lemak dalam makanan.

Cairan empedu terdiri dari air, kolesterol, lemak, garam empedu, protein dan bilirubin (pigmen empedu).  Garam empedu fungsinya mencerna lemak, sedangkan pigmen bilirubin menyebabkan empedu dan tinja bewarna kuning kehijauan. Nah, batu empedu akan terbentuk kalau cairan empedu yang tersimpan di kantong empedu mengendap dan mengeras.  Pengendapan ini terjadi karena adanya pembentukan komponen empedu (kolesterol atau pigmen empedu) meningkat atau bisa juga karena proses pengosongan kantung tidak lancar. Batu empedu jenisnya ada dua; batu kolesterol dan batu bilirubin.

Penyebab munculnya batu empedu

Beberapa faktor yang biasa menyebabkan batu empedu:

  • Genetik
  • Obesitas
  • Pola makan; tinggi lemak-kurang serat, kurang minum air
  • Hormon esterogen
  • Usia
  • Obat

Hampir dua tahun belakangan saya betul-betul jarang konsumsi makanan penuh dosa favorit: sop kaki kambing. Pola makan juga lebih baik … lebih banyak konsumsi sayur dan buah serta memerhatikan jumlah air yang masuk (minimal 1.5 liter per hari). Dugaan saya, sih, karena pil KB, deh. Soalnya tanpa konsumsi pil KB saja, perempuan termasuk yang berisiko ada batu empedu … apalagi kalau ditambah campur tangan pil KB, kan?

Gejala Batu Empedu

  1. Nyeri di perut kanan atas, makin lama makin parah, berlangsung beberapa jam.
  2. Nyeri di punggung antara dua tulang belikat.
  3. Nyeri di bahu kanan.
  4. Nyeri di daerah lambung, sehingga sering diduga sakit maag.
  5. Mual dan muntah.
  6. Kembung, bersendawa terus.
  7. Bila disertai radang kantong empedu (Cholecystitis), akan disertai demam dan menggigil.
  8. Mata dan kulit menjadi kuning serta tinja yang berwarna abu-abu.

Sekitar 80 persen penderita batu empedu tidak mempunyai keluhan, keadaan ini disebut “silent tone”. Saya termasuk kelompok ini, nih. Dari 8 gejala, saya hanya merasakan gejala no. 2, 4, dan 6. Wajar, kan, kalau disangka maag? Teman saya curiga karena saya cerita saya merasakan gejala no. 2 … bukan nyeri, sih, tepatnya saya sering merasa superpegal di punggung.

Sebenarnya batu empedu bukan lantas harus operasi, ini harus konsultasi lebih lanjut dengan dokter … kondisi saya kemarin sudah payah banget hingga dokter memutuskan untuk laparoskopi. Pencegahannya? Ya, konsumsi sayuran yang banyak, kurangi konsumsi makanan berlemak, hindari konsumsi minuman kemasan, dan perhatikan asupan air harian. Hahaha. Intinya? Memang kudu lebih memerhatikan pola makan. Semua sepertinya berhubungan ke sana, ya. Hehe.

Pascaoperasi? Porsi makan berkurang! Alhamdulillah! Saya jadi lebih memerhatikan pola makan, sih, ya. Secara fisik nggak ada perubahan selain berat badan berkurang cukup drastis. Ada yang bilang setelah kantung empedu diambil akan lebih mudah BAB, di saya biasa saja. Ada juga yang bilang akan diare selama beberapa waktu masa adaptasi, di saya nggak, tuh. Beda orang, beda pengalaman.

Phew … panjang juga post kali ini. Cukup berbobotlah, ya. Haha. Mudah-mudahan memberikan informasi buat yang mau tahu soal batu empedu. Ingat! Lebih baik mencegah daripada mengobati … apalagi kalau asuransinya ada lebihan yang harus ditanggung sendiri (ealah, kok, diketik juga).

10 thoughts on “Bukan Ikut Tren Bebatuan

  1. mbak manda, thanks for sharing akhirnya yaaa…
    aku malah merasakan poin 1,2,4,5,6. dan pas hamil hampir brojol. dan HB-ku di angka 7. lengkap bener.
    belom nyoba check up lagi sih, yg aku pernah cerita waktu itu batuku cm seukuran 3 mm. 3 mm-an ajaa itu nyeseknya kayak nembus dr perut sampe punggung. duududuuh…kalo dokterku bilang, biasanya penderita batu empedu itu cirin2nya 4 F: female, Forty (bisa juga under forty), fat, dan satu lagi F-nya aku lupa hehehe..
    duh semoga kita dikasih kesehatan terus ya mbak..

  2. Justru kalimat terakhir itu GONG-nya, mbak…. Hehehe…. Kadang klo udah diingatkan ttg biaya, baru deh bebenah urusan kesehatan. Thanks for sharing. Smoga abis ini mbak skluarga sehat selalu🙂

  3. Gue dulu pas hamil juga ada si batu ini, Man. Deg-degan deh, persis seperti yang elo bilang gejalanya: mirip maag. Masalahnya gue memang seorang penderita maag akut, sampe dokter kandungan gue bilang doi curiga ada masalah di empedu. Pas USG Abdomen, mau nangis rasanya liat batu itu. Tapi dokternya bilang tunggu melahirkan baru rencanakan langkah perawatan, eh, habis melahirkan cek lagi, nggak ada dong si batu. Alhamdulillah.

    Tapi emang abis gitu rasanya lebih menjaga makan, sih. Parno bok, kalo nemu batu-batu gitu di dalam tubuh. Btw, menurut dokter lo, kalo udah laparoskopi, ada kemungkinan si batu muncul kembali nggak?

    Sehat selalu ya, Manda!

    • Nah, kemarin pas USG abdomen gue dibilang harus bersyukur nggak muncul saat hamil. Atau setidaknya nggak berasa sakit pas hamil, hihi. Soalnya bakal lebih repot lagi penanganannya. Dokter bilang, sih, nggak akan muncul lagi. Wong kantungnya udah gone. Lebih harus memerhatikan pola makan aja. Yeah well siapa juga yang harus begitu, toh? You too, Kiki, semoga sehat selalu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s