Mei, Selalu

Whoaaa! I did not see it coming!

Reaksi yang banyak saya dapat waktu mengutarakan niat mengubah penampilan. Wajar … wong saya sendiri juga kaget setengah ampun. Kalau ditanya soal “hidayah”, saya cuma ketawa … nggak ada hidayah-hidayahan dan juga nggak terkait kaul atau janji apa pun. One day I woke up and decided that I have to do it…maybe not in the near future (this happened a couple of months back) but I have to get it on my to-do list. Buat orang yang jarang salat, puasa juga masih banyak nakalnya, multatul suka asal jeplak, endeskrey endebrey, apa yang saya lakukan adalah sesuatu yang cukup drastis, buat saya dan juga orang di sekeliling saya. Ada yang tanya soal kesiapan, “Are you sure you’re ready, Man?” Saya nggak defensif, saya berterima kasih atas pertanyaan itu … karena saya jadi lebih yakin, tentu saja siap … waitharus siap karena memang sudah jelas.

Gue dulu waktu mulai cuma modal 5 kerudung doang ….

#jleb. Lagi chat santai sama seorang teman, soal kelengkapan dasar yang saya harus punya. Begitu niat itu ada, saya langsung cicil, maklum budget terbatas jadi mesti pintar menyiasati. Lalu dia ketik itu di layar … dan saya langsung nyengir, “Gilak, nyos banget menusuk gue.” (si cetek ini lagi dilema mau beli warna apa lagi). Dia tertawa, “Nggak bermaksuuuud.” Eh, tapi nggak apa-apa, Alhamdulillah saya terus menerus dapat masukan dari kanan-kiri, which is good.

Umur memang bukan patokan menjadi dewasa tapi waktu memang guru yang paling pas. Dulu saya selalu berpikir untuk memerbaiki hati dulu baru luarnya. Pelan-pelan pemikiran itu berubah, memang saya bisa pastikan kapan hati ini bisa baik? Lalu, standar baiknya, tuh, apa? Lantas saya menyimpulkan, kalau pemikiran dulu itu cuma saya yang mencari-cari alasan saja untuk menunda. Hahaha.

Baca buku tertentu nggak? Atau kena dengan ayat apa gitu?

Nope. Tapi setelah mendapat pertanyaan itu saya lantas jadi berpikir, mungkin saja niat itu datang setelah ada satu kejadian yang mungkin nggak saya sadari. Sepertinya karena bahasan saya dan teman-teman B2B soal kewajiban istri dalam Islam. Pembahasan itu nggak menyinggung soal aurat atau penampilan tapi pembicaraan yang mengalir, ditambah dengan pencerahan dari Mamah Fine, membuat saya jadi berpikir soal keinginan Febri. Sudah agak lama dia mengutarakan maunya supaya saya mengubah penampilan, tapi dia tahu saya nggak bisa dipaksa. Dia paham itu adalah  titik yang harus saya capai dengan melalui proses yang saya jalani sendiri, tanpa paksaan. Dalam agama saya, detik akad nikah selesai dilakukan, saya tidak lagi menjadi tanggung jawab ayah dan saudara laki-laki saya tapi Febri, dunia-akhirat. Sudah jadi kewajiban dia memandu saya dan keluarga kami, semua yang akan dia pertanggungjawabkan nanti. Lalu otak saya mencerna, lah berarti dengan dia berbaik diri memahami saya nggak bisa dipaksa (padahal dalam hal ini, menurut saya, dia berhak untuk melakukan itu) artinya dia menambah satu beban yang harus dibawa sampai nanti. Saya makin yakin, satu karena Yang Di Atas jelas-jelas membuat aturan-Nya … dua, karena kami sudah berkomitmen soal keluarga. Sebagai istrinya, saya harus membantu tugasnya. Yeah well, setidaknya itu pemahaman saya🙂

……..

Mei 1999 kami memulai Febri dan Manda. Mei 2007 kami membuat komitmen soal keluarga. Mei 2015 … kami memulai sesuatu yang baru. Semua demi kebaikan. Better late than never, kami mulai selagi masih bisa.

33 thoughts on “Mei, Selalu

  1. Selamat ya mbak🙂 semoga dimudahkan dan selalu diberi kesejukan (luar dalam, hehehe). Klo soal menata hati dan perilaku, duh aku kayaknya juga very slow progress lho sejak awal berjilbab sampai sekarang udah more than 10 years.

  2. Alhamdulillah.
    Lah rapian loe pake jilbabnya ketimbang gw, Man.
    Hahaha… pantesan gw suka dibully ye.
    Gw udah mengendus loe bakalan menuju ke sini waktu Lita nulis dapet rekomendasi ninja dari loe beberapa waktu lalu. Ternyata bener yaa.
    Semoga istiqomah ya dan makin sholehah kayak gw sama Lita. *bubar semua!*

    • Ahahaha itu mah gue sok miring posenya biar terlihat rapiiii. Padahal mah awut2an secara tangan gue kurang terampil. Amiiiin … aku, kan, juga mau jadi solehah kayak lo dan Lita, Ndah :p

  3. Mandaaa…seneng liatnyaa, inshaaAllah istiqomah ya.., sama ma gw, baru belajar menggunakan… n sama juga pas suddenly mutusin make baru punya 2 buah kerudung, inner pun tak ado satupun..hehee..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s