Saatnya Menaruh Buku Itu Di Rak

Buat yang mengenal saya pribadi, tentu paham betul kalau saya, tuh, Libra sejati. Tanggal lahir pun pas banget di tengah-tengah periode zodiak. Personal traits Libra yang bisa dibilang saya banget adalah labil, setia dan forgive, but never forget. Kalau labil, ya, sudahlah, yaaaaa … saya butuh waktu lebih banyak dari orang kebanyakan dalam mengambil keputusan. Apalagi kalau mampet di antara dua pilihan. Kalau setia dan forgive, but never forget?

Libras are intensely loyal. Seringkali saya dikasih tahu oleh teman-teman, saya suka terlalu baik (padahal image yang lekat di saya, tuh, judes, lho), terlalu setia, and that sometimes I have to fight back so people won’t take advantage. Susah move on? Mungkin. Saya nggak mudah memaafkan walau juga tidak menutup hati tapi untuk melupakan sesuatu, buat saya hal itu tidak segampang memaafkan.

But perhaps you hate a thing

Salah satu kesetiaan saya adalah soal pekerjaan. Pekerjaan terakhir saya cukup bisa jadi tolok ukur loyalitas. 6 Juni 2016 adalah workversary kelima saya di kantor lama dan perjalanan saya di sana berakhir pada akhir Juli tahun yang sama. Kok, kalau setia malah cabut? Seperti halnya orang pacaran, rasa tidak nyaman bisa saja berujung pada kata putus.

*pasang lagu Glenn Fredly pasca putus sama yang beda agama

*spesifik 😀

Lho, memang kalau nggak nyaman lantas harus putus? Apa nggak bisa kompromi? Ya, kompromi mungkin salah satu solusi tapi buat hubungan kami waktu itu agak sulit dilakukan. Masing-masing punya keinginan dan kebutuhan yang tidak lagi bisa dipenuhi satu sama lain. Tuhan punya rencana lainlah buat kedua pihak.

*silakan Glenn …

Sandiwarakah selama ini

Setelah sekian lama kita tlah bersama

Setelah diskusi, kesimpulannya adalah hubungan harus berakhir. Ingin rasanya fight, untung rekan seumur hidup alias suami cepat meredamnya. Dia tanya, “Kamu siap? Sakit hati bakal berlangsung lebih lama, lho.” Dhueng. Ya, ugak … waktu itu saja saya sudah kalut setengah mati. Terbayang beberapa skenario terburuk. Lalu ia tambahkan, pas banget Ramadan … mendingan fokus ibadah, minta sama Yang Maha karena nggak ada yang nggak mungkin untuk-Nya. So I did exactly what he said.

Bukan proses mudah buat saya … to, you know…move on. Lima tahun, kan, bukan waktu singkat. Apalagi berada di tempat yang saya tahu dan ikuti betul perkembangannya. Proses move on tersebut membuat saya berada di titik berserah diri pol. Bagaimana tidak? Buat saya yang suka dengan hal penuh kepastian, ini tentu mimpi buruk. Beruntung punya support system yang mumpuni; nggak bosan kasih dukungan, jadi tempat sampah recehnya saya ketika merasa mentok, hingga menyemangati untuk beribadah lebih baik lagi. You guys know who you are. Thank you.

Lalu sekarang gimana? Sudah dapat ‘pacar’ baru? Setelah menjalani beberapa waktu … kok, sementara ini rasanya saya lebih sreg dengan teman tapi mesra. Hahaha. Punya cukup banyak waktu untuk diri sendiri tapi ada yang perhatian gituh 😛 Selain itu, bersama suami, saya lagi merintis usaha juga. Our baby yang jadi passion suami dari dulu. Nanti saya tulis terpisah, deh, soal itu. Skenario finansial … ya, bengek. Hahahaha. Tapi janji Allah rezeki dicukupkan, ya? Harus yakin 😉 Menutup tulisan soal Libra ini … eh, ya, kan, tulisan ini isinya tentang personal traits Libra? 😛 Saya panggilkan Babang Glenn sekali lagi …

Jejak langkah yang kau tinggal

Mendewasakan hatiku

*pindah lagu

Aku, kamu, dan logika kita. Mungkin memang berbeda.

 

 

Advertisements

9 thoughts on “Saatnya Menaruh Buku Itu Di Rak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s