Mama Anita Saya

Disalin dari post akun sosial media saya pada 5 September 2017. 

Salah satu hal yang saya syukuri dari hidup saya adalah berkah mendapat dua pasang orangtua. Pertama tentu orangtua kandung dan kedua, kakek-nenek dari Mama yang membesarkan saya. Saya tidak pernah dekat apalagi romantis dengan Papa dan Mama (lupakan soal “permata hati Ayah”, mana ada lah dalam kamus kami), tapi jangan tanya dengan Ayah (kakek) dan Nenek. Tak pernah sekali pun, semasa mereka hidup, secara fisik maupun hati saya jauh dari mereka.

Sepuluh tahun lalu, ketika saya dan Febri sedang merencanakan pernikahan kondisi Ayah turun. Pesan terakhirnya pada saya adalah supaya kami mendampingi Nenek hingga akhir hayatnya. And we did.

Sepuluh tahun lalu, saya menutup bab bersama Ayah. Kali pertama saya secara fisik jauh dari beliau. Satu minggu lalu, ketika ngobrol sore sama Nenek, saya lihat lelah di matanya. Dalam pikiran, saya menggebu-gebu menekan tombol backspace … berpacu dengan waktu menyunting bab terakhir bersama Nenek. Saya tahu saya harus merangkai kata menuju akhir. Tiga hari lalu, melihat Nenek terbaring di ICU, di titik sama cinta terakhirnya pergi … saya membisikkan La Illaha IllaLlah dan menyelipkan, “It is okay to let go. You did great. We’re going to be fine. I love you, Nenek.” Saya ikhlas.

Banyak yang bilang seringkali terjadi seseorang pergi di saat individu yang paling banyak menghabiskan waktu bersama ybs sedang tidak bisa mendampingi, Wallahu A’lam. Saya tidak ada di sisi Ayah dan Nenek ketika mereka pergi, entah kenapa saya selalu sedang di luar mengerjakan tugas dari keluarga dan tiba di lokasi beberapa waktu setelah momen tersebut.

Kemarin, saya mengantarkan Nenek ke rumah abadinya bersama Ayah (insertSampai Jadi Debu”). Tidak ada air mata saya saat memandikan, melihat beliau untuk terakhir kali, hingga makamnya cantik diselimuti bunga. Saya, si sulung dan cucu pertama, terbiasa jadi batu pondasi. Komandan yang harus selalu siap tugas.

Pagi ini, saya mengetik kalimat-kalimat pamungkas bab bersama Nenek. Rasanya tepat jika bab ini ditutup dengan syukur. Alhamdulillah saya diberkahi waktu dan kesempatan menjadi keturunan seorang wanita yang keras kepala, mandiri, ngototan namun berhati besar dan penuh kasih sayang. Alhamdulillah saya diberikan waktu dan kesempatan untuk membalas jasa, yang tidak bisa dihitung. Alhamdulillah.

It is okay to let go….

Hj. Anita
binti
H. Syarief Ganie
29 Mei 1929-4 September 2017

💕

*kirim Al-Fatihah

Advertisements

2 thoughts on “Mama Anita Saya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s