Mama Anita Saya

Disalin dari post akun sosial media saya pada 5 September 2017. 

Salah satu hal yang saya syukuri dari hidup saya adalah berkah mendapat dua pasang orangtua. Pertama tentu orangtua kandung dan kedua, kakek-nenek dari Mama yang membesarkan saya. Saya tidak pernah dekat apalagi romantis dengan Papa dan Mama (lupakan soal “permata hati Ayah”, mana ada lah dalam kamus kami), tapi jangan tanya dengan Ayah (kakek) dan Nenek. Tak pernah sekali pun, semasa mereka hidup, secara fisik maupun hati saya jauh dari mereka.

Sepuluh tahun lalu, ketika saya dan Febri sedang merencanakan pernikahan kondisi Ayah turun. Pesan terakhirnya pada saya adalah supaya kami mendampingi Nenek hingga akhir hayatnya. And we did.

Continue reading

Advertisements

2018

Tulisan pertama di 2018 (dan semoga rutin menulis, yaaaa, supaya blog-nya nggak berdebu). Jadi, beberapa waktu lalu Febri bilang, “Kok, blog kamu gitu, sih?” Hah? Gitu gimana, ya, maksudnya? Buru-buru klik buka … jreeeeng … ternyata Photobucket memberlakukan peraturan bebayaran buat share foto yang membuat semua foto di blog ini diganti dengan gambar Photobucket bla bla. Kesal? Nggak, sih. Namanya juga gratisan, ya, nggak punya banyak pilihan, deh. Haha.

Lalu saya pun berpikir, malas anu-anu blog dari gambar-gambar Photobucket bagaimana kalau pindah blog sajaaa? Semangat 45 buat blog baru di blogspot, pilih-pilih template lalu sempat error dan minta bantuan teman buat perbaiki tampilannya. Ya, lumayanlah. Tapi, kok, rasa nggak sreg tetap ada, ya … hahaha, penyakit bikin blog di blogspot, nih … entah kenapa saya lebih sreg dengan dashboard WordPress. Ah, sudahlah … mantapkan hati buat pindah.

Lewat 3 bulan dari pindahan, krik krik krik, tulisan di blog baru juga nggak bertambah. Yailah Man, Man … hahaha. Lalu hari ini saya coba, deh, utak-atik dan ganti-ganti sedikit tampilan di WordPress. Not bad. Lumayanlah. Dan si libra ini pun galau … WP atau BP, dong? Tentu saja jawabannyaaa … WP. Etdah, kenapa nggak dari kemarin-kemarin, ya? *toyor diri sendiri

So… here I am, making another pact with myself to write regularly. Semoga berhasil! Selamat menyongsong 2018, ya … (25 days into January) semoga semua rencana berjalan lancar, pelajaran hidup dapat diresapi dan dijalani dengan lapang hati, diberkahi kesehatan dan rezeki finansial melimpah. Aamiin YRA.  

Apa Hubungannya Ngomong Sama Ruam Popok?

Beberapa waktu lalu saya sempat galau soal Gya. Gimana nggak galau? Di usianya yang mau masuk 3 tahun, dia irit ngomong walau kosa katanya cukup banyak. Pelafalannya juga nggak terlalu jelas. Sempat was-was dan bertanya-tanya, jangan-jangan anak ini speech delay? Tanpa bermaksud membandingkan, saya ingat-ingat lagi waktu Igo dulu. Kesamaannya, keduanya diam nggak banyak omong tapi begitu tiba masanya, langsung cuat cuit nggak berhenti. Seakan-akan ia diam sambil menyerap semua kata yang dibicarakan orang sekelilingnya. Igo cukup cepat bicara dengan pelafalan jelas. Saat sudah jelas, saya pun langsung coba toilet training. Kan, katanya TT bisa dilakukan lebih cepat kalau anaknya bisa berkomunikasi dua arah. Alhamdulillah TT Igo lancar dan nggak berlangsung lama. Lalu lalu lalu Gya gimana, dong?

Stimulasi tentu jalan terus. Lalu saya memutuskan untuk mencoba TT Gya ketika melihat dia bisa komunikasi dua arah walau bicaranya masih irit dan belum terlalu jelas. Syukurlah TT siang Gya went smoothly, nggak butuh waktu lama dia sudah tidak pakai pospak kecuali waktu tidur. Anaknya juga menikmati proses pengenalan BAK di toilet dan cara bebersih diri. Malah kadang marah kalau saya atau Mbak mau bantu. Nah, nongol masalah baru. Ealah.

Jadi, kulit Gya ini memang lebih sensitif dibandingkan Igo. Waktu masih sering pakai pospak aman dari ruam popok. Tapi pas TT ini, nih, sempat ada merah-merah … bisa jadi karena lil miss yang lagi senang-senangnya belajar mandiri kurang bersih bebersihnya. Enaknya kalau sudah bisa diajak komunikasi, tuh, bisa langsung dikasih lihat hubungannya antara kejadian A dan akibat B. Jelasin, deh, ke dia kalau ruam merah itu bisa disebabkan karena kurang bersih jadi ada kuman atau bakteri. Karena sebelumnya belum pernah alami kejadian gini, di rumah nggak ada krim buat atasi ruam popok … ahaha. Jadilah nyari krim ruam popok. Lalu came across produk ini Sleek Antibacterial Diaper Cream … berasa kudet soalnya selama ini tahunya Sleek cuma produk sabun buat cuci baju anak dan perkakas makan. Bahaha.

Lucu juga … nggak pernah terpikir anak yang lagi toilet training masih bisa kena ruam popok. Kirain kalau anaknya sudah agak besar, kekhawatiran ruam popok menghilang. Padahal kalau dipikir-pikir, ya, bisa-bisa saja ruam popok terjadi karena mungkin ada sisa urin atau feses yang tercampur bakteri yang kemudian dipecah jadi amonia. Ini cukup keras untuk kulit anak-anak. Atau, ya, sesederhana anaknya gembil menyebabkan pospak terlalu ketat di area sana. Akhirnya, coba, deh, pakaikan Sleek Antibacterial Diaper Cream ke Gya. Alhamdulillah ruam teratasi, mungkin karena ada kandungan antibakterinya, ya. Gya juga jadi paham, kalau habis BAK dan bebersih (yang harus superbersih) harus dikeringkan betul lalu pakai krim khusus ini.

Lalu iseng cari tahu lebih jauh kandungan Sleek Antibacterial Diaper Cream, ternyata ada:

  • Ekstrak daun zaitun, melindungi kulit dari bakteri yang menyebabkan iritasi.
  • Chamomile dan ekstra bunga matahari, efektif mengurangi kemerahan.
  • Ekstrak alpukat, shea butter dan argan oil, natural moisturizer menjaga kulit tetap lembut

Alami semualah. Dengan pH 5.5 dan sudah dites secara klinis, terbukti  bisa libas bakteri macam Staphylococcus Aureus, Pseudomonas Aeruginosa, Escherichia Coli, dan Candida AlbicansCocok buat yang cari krim ruam popok untuk bayi, dari lahir sekali pun.

Phew satu per satu milestone dilalui Gya … tahu-tahu lulus toilet training.  Biar lambat asal masih sesuai tabel tumbuh kembang nggak apa-apa, ya, Nak. Haha.