Apa Hubungannya Ngomong Sama Ruam Popok?

Beberapa waktu lalu saya sempat galau soal Gya. Gimana nggak galau? Di usianya yang mau masuk 3 tahun, dia irit ngomong walau kosa katanya cukup banyak. Pelafalannya juga nggak terlalu jelas. Sempat was-was dan bertanya-tanya, jangan-jangan anak ini speech delay? Tanpa bermaksud membandingkan, saya ingat-ingat lagi waktu Igo dulu. Kesamaannya, keduanya diam nggak banyak omong tapi begitu tiba masanya, langsung cuat cuit nggak berhenti. Seakan-akan ia diam sambil menyerap semua kata yang dibicarakan orang sekelilingnya. Igo cukup cepat bicara dengan pelafalan jelas. Saat sudah jelas, saya pun langsung coba toilet training. Kan, katanya TT bisa dilakukan lebih cepat kalau anaknya bisa berkomunikasi dua arah. Alhamdulillah TT Igo lancar dan nggak berlangsung lama. Lalu lalu lalu Gya gimana, dong?

Stimulasi tentu jalan terus. Lalu saya memutuskan untuk mencoba TT Gya ketika melihat dia bisa komunikasi dua arah walau bicaranya masih irit dan belum terlalu jelas. Syukurlah TT siang Gya went smoothly, nggak butuh waktu lama dia sudah tidak pakai pospak kecuali waktu tidur. Anaknya juga menikmati proses pengenalan BAK di toilet dan cara bebersih diri. Malah kadang marah kalau saya atau Mbak mau bantu. Nah, nongol masalah baru. Ealah.

Jadi, kulit Gya ini memang lebih sensitif dibandingkan Igo. Waktu masih sering pakai pospak aman dari ruam popok. Tapi pas TT ini, nih, sempat ada merah-merah … bisa jadi karena lil miss yang lagi senang-senangnya belajar mandiri kurang bersih bebersihnya. Enaknya kalau sudah bisa diajak komunikasi, tuh, bisa langsung dikasih lihat hubungannya antara kejadian A dan akibat B. Jelasin, deh, ke dia kalau ruam merah itu bisa disebabkan karena kurang bersih jadi ada kuman atau bakteri. Karena sebelumnya belum pernah alami kejadian gini, di rumah nggak ada krim buat atasi ruam popok … ahaha. Jadilah nyari krim ruam popok. Lalu came across produk ini Sleek Antibacterial Diaper Cream … berasa kudet soalnya selama ini tahunya Sleek cuma produk sabun buat cuci baju anak dan perkakas makan. Bahaha.

Lucu juga … nggak pernah terpikir anak yang lagi toilet training masih bisa kena ruam popok. Kirain kalau anaknya sudah agak besar, kekhawatiran ruam popok menghilang. Padahal kalau dipikir-pikir, ya, bisa-bisa saja ruam popok terjadi karena mungkin ada sisa urin atau feses yang tercampur bakteri yang kemudian dipecah jadi amonia. Ini cukup keras untuk kulit anak-anak. Atau, ya, sesederhana anaknya gembil menyebabkan pospak terlalu ketat di area sana. Akhirnya, coba, deh, pakaikan Sleek Antibacterial Diaper Cream ke Gya. Alhamdulillah ruam teratasi, mungkin karena ada kandungan antibakterinya, ya. Gya juga jadi paham, kalau habis BAK dan bebersih (yang harus superbersih) harus dikeringkan betul lalu pakai krim khusus ini.

Lalu iseng cari tahu lebih jauh kandungan Sleek Antibacterial Diaper Cream, ternyata ada:

  • Ekstrak daun zaitun, melindungi kulit dari bakteri yang menyebabkan iritasi.
  • Chamomile dan ekstra bunga matahari, efektif mengurangi kemerahan.
  • Ekstrak alpukat, shea butter dan argan oil, natural moisturizer menjaga kulit tetap lembut

Alami semualah. Dengan pH 5.5 dan sudah dites secara klinis, terbukti  bisa libas bakteri macam Staphylococcus Aureus, Pseudomonas Aeruginosa, Escherichia Coli, dan Candida AlbicansCocok buat yang cari krim ruam popok untuk bayi, dari lahir sekali pun.

Phew satu per satu milestone dilalui Gya … tahu-tahu lulus toilet training.  Biar lambat asal masih sesuai tabel tumbuh kembang nggak apa-apa, ya, Nak. Haha.

Sekarang

Ada kalanya kita hanya perlu tetap menjalani hidup dan biarkan Dia ambil alih 🙂

Status kemarin, yang ternyata mengundang beberapa japri dari teman karena sebelum status tersebut saya post mengenai suatu hal yang cukup mengagetkan. Buat yang kenal saya dekat pasti tahu betapa besar arti objek postingan itu buat kami. Lantas pertanyaan dilanjutkan dengan memastikan apakah kami sudah yakin. Insya Allah yakin itu adalah yang terbaik untuk saat ini.

Bukan hal mudah untuk membahas dan berdiskusi soal itu, we’ve been together for almost 2 decades dan ternyata itu nggak ngaruh, haha, kami masih butuh waktu mikir sendiri-sendiri mengenai hal tersebut sebelum duduk bareng dan mengeluarkan isi kepala serta hati dengan adem. Sejak awal saya yang mencetuskan ide terlebih dulu, tentu disambut dengan raut muka kencang Febri. Respons wajar, saya paham kenapa dia begitu. Bebannya ada di dia. Maaf, ya, Feb. Ribuan kali sudah pemikiran bahwa saya gagal bantu dirinya terbersit dalam kepala. Tapi, Feb, percayalah, kamu bisa. Kita bisa.

Jajal Klaim Online JHT BPJS Ketenagakerjaan

Buat pekerja Jamsostek atau sekarang namanya berubah menjadi BPJS Ketenagakerjaan pasti sudah nggak asing lagi, ya? Tiap bulan di slip gaji pasti ada poin iuran yang jadi kewajiban pekerja. Program BPJS Ketenagakerjaan ada beberapa tapi yang paling banyak ada di perusahaan adalah Jaminan Hari Tua (JHT), program perlindungan bagi pekerja bertujuan menjamin keamanan dan kepastian terhadap risiko sosial ekonomi. Semacam kita dipaksa menabunglah jadinya 🙂 Nggak terasa, kok, potongannya karena hanya 2 persen dari pendapatan tiap bulan.

Lalu, apakah semua program BPJS Ketenagakerjaan bisa diklaim atau diambil? Tentu bisa. Saya hanya akan membahas klaim JHT, ya, soalnya hanya punya pengalaman di area tersebut. Saya sudah dua kali mencairkan JHT dengan cara berbeda. Pertama, pencairan dilakukan waktu nama instansinya masih Jamsostek. Jadi, sistemnya masih lama; bawa semua berkas plus foto kopinya, antre dari pagi, dan lainnya. Kedua, pencairan dilakukan lewat fasilitas e-klaim. Apa pula e-klaim itu?

Beberapa tahun lalu Jamsostek mencoba go digital dan saya pun langsung membuat user name dengan mendaftarkan no kartu. Lumayan, bisa pantau saldo JHT sendiri tanpa harus cek ke bagian HRD/Keuangan. Ketika pindah kerja dan ternyata dibuatkan kartu baru, saya juga langsung mendaftarkannya. Nah, ketika akan mencairkan JHT, saya pun kembali membaca situs BPJS Ketenagakerjaan dan melihat sistem e-klaim, yang hanya bisa dilakukan oleh pekerja yang sudah memiliki user name di situs tersebut. Dan perlu dicermati, e-klaim hanya bisa dilakukan di situs yang diakses dari PC atau laptop. Tidak bisa lewat aplikasi atau mobile site. Jadi, seperti mengurus paspor online, kita harus mengunggah beberapa dokumen yang diperlukan untuk pencairan dana. Dokumennya berbeda-beda, berikut akan saya jelaskan untuk yang JHT.

Oh, ya, JHT sendiri baru bisa dicairkan jika kita sudah tidak bekerja lagi dan ada sudah melewati masa tunggu 1 bulan setelah pengunduran diri. Lalu bagaimana jika JHT sudah dicairkan dan katakanlah, 6 bulan setelah mengundurkan diri kita memutuskan untuk bekerja kembali? Tentu harus buat kartu keanggotaan baru, ya.

Continue reading