Generasi Gadget

Haha … kemarin baca blogpost Lita soal telepon seluler jadi mau ikutan mengenang sejarah per-gadget-an saya. Sepanjang ingatan, sih, saya seperti halnya pacar, saya tipe setia. Saaadddaaaaaap! Kalau nggak perlu-perlu amat, nggak akan ganti gadget. Pokoknya ganti itu kalau kebutuhannya sudah berubah dan tentu, rezekinya juga. Hahaha. UUD. Sebelum pakai telepon seluler, yaaaa, standar pergaulan anak muda pada zamannya lah … pakai pager. Telepon seluler pertama saya itu dipinjamkan sama Mama, yang mana akhirnya jadi HM. Gini asal mulanya:

Motorola 9800

Seingat saya, sih, tipenya yang ini. Nomornya 082 alias Komselindo. Hahaha. Tebal banget, bok, kalau di dalam tas berat abis. Keypad-nya butuh tenaga agak lebay untuk pencet. Isi baterainya juga yang masih mesti dicabut dulu lalu di-charge pakai alat khusus. Refotlah.  Continue reading

Tentang Kami

Kamu bahagia nggak?

Mendadak Febri nanya pertanyaan di atas dalam perjalanan kami ke kantor. Duile penting banget dibahas di atas motor. Hahaha. Lalu saya nanya balik, kenapa mendadak tanya seperti itu. Febri bilang bersama-sama sekian belas tahun, kan, bukan jaminan kalau masing-masing pasti bahagia. Dia mau tahu, di balik ketawa-tawanya saya dalam menjalani hari-hari bersamanya saya tertawa bahagia atau bahagia yang dipaksakan.

Kemudian kami ngobrol ngalor ngidul soal saya dan dia, soal anak-anak, soal rumah tangga. Bersyukur kami masih diingatkan untuk saling introspeksi, saling mengingatkan, dan menguatkan. Saya bilang ke dia … mungkin kebanyakan orang bilang dia yang beruntung dapat saya yang saklek, bisa dukung dan push dia untuk jadi lebih baik padahal sebaliknya, saya yang lebih beruntung … saya tahu terkadang (bahkan mungkin “sering”) saya bisa jadi orang yang sangat sulit dipahami dan ditangani tapi dia selalu bisa jadi sosok yang menjinakkan saya. I am a better person because of him. 

Jadi, Feb … jawabannya: Alhamdulillah bahagia. Terima kasih :)