Ah ….

Di antara puyengnya urusan kerja, menyempatkan diri lihat-lihat online magazine yang diakuisisi Disney Interactive Media Group: http://www.babble.com dan mata tertuju pada artikel “I’m Feeling Too Much Pressure to Enjoy Every Moment to Actually Enjoy Every Moment” … lantas semacam mendapatkan lampu menyala di atas kepala, Aha! Penulisnya, Chaunie Brusie, ibu empat anak, bisa menuangkan pikiran saya dalam kata-kata. Saya share penggalan-penggalannya di bawah ini:

Everyone talks about enjoying the moment, but no one mentions how hard it is to do just that when you’re so stressed wondering if you are enjoying it enough.

dan

I guess my point in all of this is to simply say that sometimes, maybe it’s okay to just live in the moment and hope for the best. And let’s not get started on the whole capturing the moment vs. living the moment debacle because this mama can’t even handle it.

Siapa yang pernah merasakan hal yang sama? *tos

Gita Persada di Marching In Harmony

Sabtu lalu kami sudah siap siaga di Cibubur pukul 9 pagi. What? Long weekend pula. Kalau bukan karena anak, mana mungkinlah kami segitu siaganya, hahaha. Jadi Igo terpilih untuk ikut lomba marching band yang tahun ini diberi judul “Marching In Harmony”. Latihannya cukup intens, selama beberapa bulan ada tambahan di Sabtu pagi plus dua hari lain saat mendekati hari H. Anaknya, sih, senang-senang saja, ya. Di hari H, sumpah speechless lihat penampilan mereka … anak TK bisa melakukan itu semua: baris, mengikuti perintah, sambil main alat musik. Sudah tentulah saya mewek. Febri yang posisinya pas di tengah GOR bisa menangkap keseluruhan penampilan (eh, hahaha yel-yel para ibu di awal nggak ada, deng *salim) dan sudah mengunggahnya ke YouTube.

Sila dilihat:

Malamnya dapat kabar kalau sekolah Igo menang Juara Umum 3, yaaaaaaay! Great job, kiddos!

Me-reset Kita

Jelang melahirkan Gya, Febri mengingatkan saya soal adil sama anak. Seperti biasa, sekalinya dia ngomong serius topiknya langsung yang #jleb. “Ya, jelaslah harus adil dan aku pasti bisa,” jawab saya waktu itu. Lantas dia balas, “Aku tahu kamu pasti akan maksimal banget tapi dulu waktu Igo, kan, kamu kerja di rumah sampai dia 9 bulan. Sekarang kondisinya beda, toh?” Lagi-lagi #jleb. Saya melewati akhir masa cuti melahirkan tanpa drama aduh-saya-mau-resign-saja-mendingan-urus-bayi-di-rumah. Lha, wong, masih butuh kerja. Haha.

Adaptasi Gya pasca saya kembali ke kantor bagus banget. Tiap pulang kerja dan selesai ritual bebersih, Gya pasti sama saya. Mandi pagi juga sama saya. Tapi memang kondisinya beda, sih … sekarang waktu tempuh perjalanan ke dan dari kantor lebih lama ketimbang zaman Igo bayi. Otomatis saya dan Febri harus lebih pagi berangkat plus sebelumnya menyiapkan Igo berangkat sekolah. Lama kelamaan ada hari-hari di mana saya tak lagi sempat memandikan Gya sebelum ke kantor. Load kerja juga berbeda, walau masih dalam batas toleransi Febri sebagai kepala keluarga, tapi itu sudah risiko. Suatu hari kira-kira 3 mingguan lalu Febri ngomong lagi, “Sepertinya Gya lengket banget sama Mbak Ria.” DHUENG. Lantas saya perhatikan … Gya merengek kalau Mbak Ria jalan menjauhi dirinya … ke saya? Merengek juga tapi dengan nada dan durasi berbeda T__T

GIMANA, DONG? Eh, Alhamdulillah pertanyaan saya itu langsung dijawab Yang Di Atas … Mbak Ria ajukan cuti seminggu karena harus mengurus sesuatu di kampung. Kami memang memberikan jatah pulang kampung 2x setahun buatnya. Baiklaaah, saya juga cuti, deh, seminggu. Anak-anak otomatis sama saya terus. Dari melek mata sampai tidur malam. Super banget capeknya tapi super duper senang. Gya, maaf, ya, kemarin-kemarin kitanya ternyata masih kurang. Mudah-mudahan seterusnya ibu bisa adil waktu buat Gya :)

I love you, Maleia