Sekarang

Ada kalanya kita hanya perlu tetap menjalani hidup dan biarkan Dia ambil alih🙂

Status kemarin, yang ternyata mengundang beberapa japri dari teman karena sebelum status tersebut saya post mengenai suatu hal yang cukup mengagetkan. Buat yang kenal saya dekat pasti tahu betapa besar arti objek postingan itu buat kami. Lantas pertanyaan dilanjutkan dengan memastikan apakah kami sudah yakin. Insya Allah yakin itu adalah yang terbaik untuk saat ini.

Bukan hal mudah untuk membahas dan berdiskusi soal itu, we’ve been together for almost 2 decades dan ternyata itu nggak ngaruh, haha, kami masih butuh waktu mikir sendiri-sendiri mengenai hal tersebut sebelum duduk bareng dan mengeluarkan isi kepala serta hati dengan adem. Sejak awal saya yang mencetuskan ide terlebih dulu, tentu disambut dengan raut muka kencang Febri. Respons wajar, saya paham kenapa dia begitu. Bebannya ada di dia. Maaf, ya, Feb. Ribuan kali sudah pemikiran bahwa saya gagal bantu dirinya terbersit dalam kepala. Tapi, Feb, percayalah, kamu bisa. Kita bisa.

Jajal Klaim Online JHT BPJS Ketenagakerjaan

Buat pekerja Jamsostek atau sekarang namanya berubah menjadi BPJS Ketenagakerjaan pasti sudah nggak asing lagi, ya? Tiap bulan di slip gaji pasti ada poin iuran yang jadi kewajiban pekerja. Program BPJS Ketenagakerjaan ada beberapa tapi yang paling banyak ada di perusahaan adalah Jaminan Hari Tua (JHT), program perlindungan bagi pekerja bertujuan menjamin keamanan dan kepastian terhadap risiko sosial ekonomi. Semacam kita dipaksa menabunglah jadinya🙂 Nggak terasa, kok, potongannya karena hanya 2 persen dari pendapatan tiap bulan.

Lalu, apakah semua program BPJS Ketenagakerjaan bisa diklaim atau diambil? Tentu bisa. Saya hanya akan membahas klaim JHT, ya, soalnya hanya punya pengalaman di area tersebut. Saya sudah dua kali mencairkan JHT dengan cara berbeda. Pertama, pencairan dilakukan waktu nama instansinya masih Jamsostek. Jadi, sistemnya masih lama; bawa semua berkas plus foto kopinya, antre dari pagi, dan lainnya. Kedua, pencairan dilakukan lewat fasilitas e-klaim. Apa pula e-klaim itu?

Beberapa tahun lalu Jamsostek mencoba go digital dan saya pun langsung membuat user name dengan mendaftarkan no kartu. Lumayan, bisa pantau saldo JHT sendiri tanpa harus cek ke bagian HRD/Keuangan. Ketika pindah kerja dan ternyata dibuatkan kartu baru, saya juga langsung mendaftarkannya. Nah, ketika akan mencairkan JHT, saya pun kembali membaca situs BPJS Ketenagakerjaan dan melihat sistem e-klaim, yang hanya bisa dilakukan oleh pekerja yang sudah memiliki user name di situs tersebut. Dan perlu dicermati, e-klaim hanya bisa dilakukan di situs yang diakses dari PC atau laptop. Tidak bisa lewat aplikasi atau mobile site. Jadi, seperti mengurus paspor online, kita harus mengunggah beberapa dokumen yang diperlukan untuk pencairan dana. Dokumennya berbeda-beda, berikut akan saya jelaskan untuk yang JHT.

Oh, ya, JHT sendiri baru bisa dicairkan jika kita sudah tidak bekerja lagi dan ada sudah melewati masa tunggu 1 bulan setelah pengunduran diri. Lalu bagaimana jika JHT sudah dicairkan dan katakanlah, 6 bulan setelah mengundurkan diri kita memutuskan untuk bekerja kembali? Tentu harus buat kartu keanggotaan baru, ya.

Continue reading

Jangan Parno Dulu

Tiap orangtua pasti pernah merasa was-was ketika anaknya terlihat belum mencapai suatu milestone. Saya rasa wajar, ya, merasa demikian (tentu yang masih dalam batas wajar) karena sebagai orangtua kita nggak mau lalai memantau perkembangan anak. Ketika kami dikaruniai Gya, saya secara otomatis berpikir Gya akan seperti kebanyakan anak perempuan lain: akan lebih cepat bicara ketimbang Igo dulu. Ternyata dugaan saya salah besar. Sama seperti kakaknya, Gya ternyata lancar jalan terlebih dulu jauh sebelum ia babbling kata pertamanya. Di usianya yang ke sebelas bulan, Gya lincah berjalan ke sana kemari.

Seiring bertambahnya usia, kosa kata Gya pun bertambah banyak tapi, kok, (menurut saya) nggak drastis, ya. Saya nggak lantas panik, stimulasi di rumah tetap gencar dilakukan. Mengulang kata-kata sederhana, membacakan buku cerita bergambar, dan lainnya. Hasilnya ada tapi lagi-lagi menurut saya jauh dari ekspektasi. Lalu saya lihat tabel Denver II juga tahap perkembangan usia 2 tahun milik Keluarga Kita dan mencocokkan usia Gya dengan aktivitas yang seharusnya sudah bisa ia lakukan di usianya, Alhamdulillah perkembangannya sesuai. Kemudian beberapa waktu lalu Gya mendadak demam seharian, besoknya reda dan aktif seperti biasa … lucunya, setelah demam itu, kok, dia makin cerewet dan kosa katanya semakin banyak. Ia pun bisa membuat kalimat kombinasi 2-4 kata. Ahaha apakah ini yang dibilang orang dulu, ya? Sakit karena mau tambah kebisaan? Entahlah.

Waktu Igo bersiap masuk SD, saya seperti banyak orangtua lainnya pening dengan masalah calistung. Saya lihat Igo belum siap … menghafal huruf saja susah sekali. Beruntung SD incaran tidak mengharuskan calon siswa sudah bisa membaca, tes masuknya pun tidak ada tes calistung. Awal kelas 1 kami cukup kewalahan dengan tugas sekolah, tugasnya sebenarnya sederhana tetapi akan lebih mudah dilakukan jika Igo sudah bisa membaca. Tapi herannya, Igo lebih antusias belajar huruf dan menulis. Mungkin terpacu banyak temannya sudah bisa lebih dulu tapi saya lihat kematangan usianya juga berperan cukup besar. Memang saya sering baca juga kalau untuk calistung usia yang tepat itu adalah mulai kelas 1 SD (CMIIW). Sekarang, pertengahan semester 1 kelas 2 perkembangan baca dan tulis Igo sangat pesat. Tulisannya termasuk rapi walau seringkali masih kurang teliti karena terburu-buru mau selesai mengakibatkan ada kata yang kurang huruf.

Wew … memang, yah, sebagai orangtua kita harus awas banget dengan rambu-rambu perkembangan anak. Tujuannya selain bisa cepat tanggap jika memang ada yang harus dicek lebih lanjut adalah supaya tidak cepat parno.