One Fine Day at SQP

Kalau boleh jujur, saya bukan tipe orang yang suka beraktivitas luar ruang. Bukan apa-apa, perubahan suhu drastis kerap kali bikin saya sakit kepala. Hehe. Febri? Aslinya dia senang sekali dengan aktivitas luar ruang, dulu dia sering naik gunung juga … tapi belakangan dia sepertinya malas, haha. Ya, aktivitas luar ruang, kan, memang lebih menguras energi, ya … apalagi kalau bawa anak-anak.¬†But we both know outdoor activity is important for children, banyaklah manfaatnya … kami usahakan untuk sesekali bawa Igo dan Gya beraktivitas di luar ruang, renang misalnya. Liburan kemarin kami iseng main ke Scientia Square Park, Serpong. Beberapa teman sudah cerita soal¬†skate park¬†mini yang ada di sana, sepertinya seru. Berangkatlah kami ke sana …

Lokasinya mudah ditemukan, kami menggunakan bantuan gadget, haha. Ternyata gedung yang dijadikan patokan sudah beberapa kali kami lewati, jadi mudah-mudah saja menemukan area yang dimaksud. Area parkir cukup memadai dan masih gratis. Di pinggir area taman ada banyak pilihan makanan yang cukup ramah anak, jadi nggak masalah, deh, soal makan. Kalau ada keperluan anak, misalnya pospak, yang perlu dibeli, di area SDC ada swalayan yang cukup lengkap. Setelah selesai makan, baru, deh, kami coba jajaki. HTM-nya Rp50.000 untuk akhir pekan (sekarang masih diskon 50%) dan Rp30.000 untuk hari biasa. Ternyata di tanah seluas 1.2 hektar SQP ada beragam fasilitas atau area, antara lain:

  • Universe Amphitheater
  • Velocity Skate Park
  • Kids Playground
  • Paddy Field
  • Vertical Limit
  • The Twister Jr.

Igo, tak disangka, sangat menyukai Vertical Limit, area panjat dinding. Kami pikir ia akan superantusias dengan¬†skate park secara belakangan ini dia sedang heboh-hebohnya mau beli¬†skate board. Gya … cukup senang dengan bisa berlarian bebas ke sana kemari. Kurang antusias dengan ayunan tapi heboh dengan mainan semacam jungkat-jungkit. Igo coba¬†in-line skate juga, harga sewa per unit Rp20.000 dan kalau mau beli kaus kaki di sana harganya Rp10.000. Dia cukup menikmati belajar¬†in-line skate,¬†Febri cukup gempor¬†ngajarinnya, hahaha.

Cukup senang menghabiskan waktu di sana. Tanpa sakit kepala pun! Haha, penting buat saya. We definitely will come back to SQP.

Ouwww Snap!

Post yang masih berkaitan dengan perubahan penampilan, kali ini mau cerita komentar yang didapat saat libur lebaran.

Lho, sekarang pakai jilbab, toh? Bagus, deh, sudah sadar.

Diberikan oleh seorang (perempuan) yang belum berjilbab. Maksudnya apa kira-kira? Haha, saya tak bisa berkata-kata. Saya amini, mungkin memang ini langkah awal saya menjadi “sadar”. Mudah-mudahan yang bersangkutan juga jadi “sadar” bahwa mulut bisa asal jeplak tanpa si empunya ngaca.

Hah? Ngapain pakai jilbab? Ngapain, sih?

A bit harsh, I know. Tapi komentar ini datang dari seorang sepuh menuju pikun yang (setelah saya ingat lagi) sejak dulu memang beliau antipati terhadap agama yang saya anut (walau beliau secara KTP beragama sama). Nggak diambil pusing. Febri pun santai ketika harus makan di hadapan beliau dan dicecar pertanyaan kenapa menyarankan istrinya pakai jilbab. Toh, 5 menit kemudian beliau pasti lupa ocehannya.

Saat Febri dicecar, ada jawaban paman yang bikin adem, “Disyukurilah, Ma, dia dapat suami yang Insya Allah bisa membimbing. Bagus, dong? Sedikit, banyak, Wallahualam, orangtuanya juga mendapat kebaikan, lho, dari putri yang berjilbab.”

ūüėā pakai jilbab dikomentarinya macam-macam amat, yak? Mbok komentarnya yang bagus-bagus saja … macam Febri pas lihat saya bergaya di foto ini, “Nah, aku suka, nih, kamu yang seperti ini. Kembali seperti dulu.” (Memangnya sekarang gaya saya kenapa, sih? ūüėÖ)