Jangan Parno Dulu

Tiap orangtua pasti pernah merasa was-was ketika anaknya terlihat belum mencapai suatu milestone. Saya rasa wajar, ya, merasa demikian (tentu yang masih dalam batas wajar) karena sebagai orangtua kita nggak mau lalai memantau perkembangan anak. Ketika kami dikaruniai Gya, saya secara otomatis berpikir Gya akan seperti kebanyakan anak perempuan lain: akan lebih cepat bicara ketimbang Igo dulu. Ternyata dugaan saya salah besar. Sama seperti kakaknya, Gya ternyata lancar jalan terlebih dulu jauh sebelum ia babbling kata pertamanya. Di usianya yang ke sebelas bulan, Gya lincah berjalan ke sana kemari.

Seiring bertambahnya usia, kosa kata Gya pun bertambah banyak tapi, kok, (menurut saya) nggak drastis, ya. Saya nggak lantas panik, stimulasi di rumah tetap gencar dilakukan. Mengulang kata-kata sederhana, membacakan buku cerita bergambar, dan lainnya. Hasilnya ada tapi lagi-lagi menurut saya jauh dari ekspektasi. Lalu saya lihat tabel Denver II juga tahap perkembangan usia 2 tahun milik Keluarga Kita dan mencocokkan usia Gya dengan aktivitas yang seharusnya sudah bisa ia lakukan di usianya, Alhamdulillah perkembangannya sesuai. Kemudian beberapa waktu lalu Gya mendadak demam seharian, besoknya reda dan aktif seperti biasa … lucunya, setelah demam itu, kok, dia makin cerewet dan kosa katanya semakin banyak. Ia pun bisa membuat kalimat kombinasi 2-4 kata. Ahaha apakah ini yang dibilang orang dulu, ya? Sakit karena mau tambah kebisaan? Entahlah.

Waktu Igo bersiap masuk SD, saya seperti banyak orangtua lainnya pening dengan masalah calistung. Saya lihat Igo belum siap … menghafal huruf saja susah sekali. Beruntung SD incaran tidak mengharuskan calon siswa sudah bisa membaca, tes masuknya pun tidak ada tes calistung. Awal kelas 1 kami cukup kewalahan dengan tugas sekolah, tugasnya sebenarnya sederhana tetapi akan lebih mudah dilakukan jika Igo sudah bisa membaca. Tapi herannya, Igo lebih antusias belajar huruf dan menulis. Mungkin terpacu banyak temannya sudah bisa lebih dulu tapi saya lihat kematangan usianya juga berperan cukup besar. Memang saya sering baca juga kalau untuk calistung usia yang tepat itu adalah mulai kelas 1 SD (CMIIW). Sekarang, pertengahan semester 1 kelas 2 perkembangan baca dan tulis Igo sangat pesat. Tulisannya termasuk rapi walau seringkali masih kurang teliti karena terburu-buru mau selesai mengakibatkan ada kata yang kurang huruf.

Wew … memang, yah, sebagai orangtua kita harus awas banget dengan rambu-rambu perkembangan anak. Tujuannya selain bisa cepat tanggap jika memang ada yang harus dicek lebih lanjut adalah supaya tidak cepat parno.

Tanda Tanya

Sometimes the questions are complicated and the answers are simple.

-Dr. Seuss-

Tapi dalam banyak kasus justru terbalik. Pertanyaannya sederhana, bahkan hanya satu kata tapi jawabannya rumit dan berliku. Sudah disiapkan jawaban yang paling pas (menurut saya) tapi malah mencetus rentetan pertanyaan lanjutan. Sudahlah, belajar untuk membaca raut muka lawan bicara … apakah ia nyaman ditanya terus menerus?🙂

Lagi-Lagi Laparoskopi

Siapa yang sudah pernah operasi usus buntu? Pasti banyak, ya. Apa yang jadi gejala? Sakitkah? Nyeri? Kembung? Tongpes? Eh. Tengah Juni lalu saya harus menjalani laparoskopi (LO) usus buntu. Sebelumnya tidak merasa sakit sama sekali. Hanya ada sedikit rasa mengganjal di perut bawah, seperti hamil muda waktu rahim mulai membesar. Lalu curiganya itu usus buntu dari mana, dong?

Jadi, Bumi, anaknya Adis, 3 minggu sebelum saya LO juga menjalani operasi usus buntu. Kebetulan waktu itu saya juga menemani Adis di ruang tunggu dan kami sempat ngobrol soal ciri-ciri usus buntu. Salah satu yang Adis sebut (informasi dari dokternya Bumi) adalah rasa ganjal di perut bawah, rasa tersebut bisa atau tanpa disertai nyeri. Walah, beberapa bulan belakangan saya merasakan hal yang dia sebut itu. Langsung membatin, pokoknya kalau terasa lagi saya akan periksakan ke dokter. Parno kalau-kalau ternyata betul usus buntu dan siap pecah seperti pengalaman kantung empedu waktu itu.

Ealah, terasa, dong. Tanpa pikir panjang langsung konsul dokter dan diinformasikan kalau saya harus menjalani dua tes: laboratorium untuk urin (bisa jadi ada masalah di saluran kemih) dan juga rontgen dengan sebelumnya meminum cairan kontras (kalau cairan tersendat artinya ada sumbatan di usus). Jika hasil kedua tes baik-baik saja, saya akan dirujuk ke dokter kandungan karena harus cek apakah ada kista yang ternyata bisa juga menimbulkan rasa ganjal. Ternyata setelah rontgen didapat hasil kalau ada penyumbatan di area usus buntu … dirujuklah ke dokter bedah, langsung minta dr. Taslim P karena saya LO kantung empedu juga dengan beliau.

Dr. Taslim menyarankan untuk diangkat karena gejala sudah terasa selama beberapa bulan, kita nggak tahu pasti kondisi di dalam seperti apa. Ya, sikatlah. Masuk RS untuk persiapan Minggu sore, tindakan dilakukan Senin siang, dan karena kondisi pasca-operasi aman, saya pulang Rabu sore. Proses penyembuhan juga tidak seberat waktu angkat kantung empedu, mungkin juga karena posisi usus buntu agak di bawah, ya, jadi tiap kali saya bergerak tidak terasa sesak. Downside-nya hanya ngilu yang suka mendadak muncul kalau lagi beraktivitas cukup berat. Wajar kalau menurut dokter, kan, lukanya di dalam … butuh waktu lebih lama untuk betul-betul sembuh.

Wow, untuk seseorang yang takut jarum … dalam waktu 2 tahun saya sudah menjalani partus spontan dengan perdarahan karena bayi besar, enam bulan kemudian LO angkat kantung empedu, dan setahun setelahnya LO usus buntu. Luar biasa. Mudah-mudahan sudah selesai, ya, petualangan rumah sakit saya ini. Ahaha.