Kembali ke Sekolah

Akhirnya hari yang ditunggu datang juga, Igo masuk sekolah dasar. Anaknya cranky karena terlalu lama libur dan anggaran nggak memungkinkan buat liburan ke luar kota. Dia antusias banget. Saat kami mengajaknya membeli perlengkapan sekolah sudah wanti-wanti, “Aku maunya yang kakak SD, ya.” Jadi kami nggak membelikannya tas dengan gambar karakter lagi, Febri pilih Eiger (merek perlengkapan naik gunung) karena kokoh dan bergaransi 1 tahun untuk jahitan plus retsleting (lumayan, kan?) dan membebaskan Igo memilih warnanya. Begitu juga dengan sepatu, Igo pesan supaya sepatunya pakai tali, “Aku mau belajar sepatu yang nggak pakai tempelan (velcro, red).” Mellow-kah kami? Nggak.

Hari pertama di sekolah Igo, orangtua diminta hadir mendampingi dan beraktivitas bareng anaknya sampai pukul 10.00. Igo mulai nggak sabaran, “Ayah dan Ibu nggak kerja? Kok, masih di sini?” Dalam edisi diusir anak sendiri. Hahaha. Dia sepertinya lebih PD kalau nggak ada ayah dan ibunya. Memang, sih, sepanjang aktivitas pagi dia terlihat seperti gengsi dan nggak jadi dirinya sendiri. Begitu guru kelasnya mengumumkan bahwa sudah waktunya orangtua berpisah dengan anak-anaknya, Igo hanya menaikkan alisnya ke arah kami tanda nggak ada masalah. Sotoy memang. Nggak lama dia berdiri dan nyamperin saya, dia peluk saya kencang sekali … “Ayah, Ibu, terima kasih, ya, aku sekolah di sini. Aku suka.” Laaaaah, saya malah jadi mellow karena kalimatnya ini … bukan karena fakta dia sudah masuk sekolah dasar. Duh, Nak … Alhamdulillah kalau merasa senang dan cocok … mudah-mudahan di rumah barunya kerasan dan Igo bisa jadi individu yang berkarakter, punya konsep diri yang positif, serta kompeten secara akademis. Amin.

Selamat menjelajah dunia baru, ya, Go!

His other home for the next 6 years

One Fine Day at SQP

Kalau boleh jujur, saya bukan tipe orang yang suka beraktivitas luar ruang. Bukan apa-apa, perubahan suhu drastis kerap kali bikin saya sakit kepala. Hehe. Febri? Aslinya dia senang sekali dengan aktivitas luar ruang, dulu dia sering naik gunung juga … tapi belakangan dia sepertinya malas, haha. Ya, aktivitas luar ruang, kan, memang lebih menguras energi, ya … apalagi kalau bawa anak-anak. But we both know outdoor activity is important for children, banyaklah manfaatnya … kami usahakan untuk sesekali bawa Igo dan Gya beraktivitas di luar ruang, renang misalnya. Liburan kemarin kami iseng main ke Scientia Square Park, Serpong. Beberapa teman sudah cerita soal skate park mini yang ada di sana, sepertinya seru. Berangkatlah kami ke sana …

Lokasinya mudah ditemukan, kami menggunakan bantuan gadget, haha. Ternyata gedung yang dijadikan patokan sudah beberapa kali kami lewati, jadi mudah-mudah saja menemukan area yang dimaksud. Area parkir cukup memadai dan masih gratis. Di pinggir area taman ada banyak pilihan makanan yang cukup ramah anak, jadi nggak masalah, deh, soal makan. Kalau ada keperluan anak, misalnya pospak, yang perlu dibeli, di area SDC ada swalayan yang cukup lengkap. Setelah selesai makan, baru, deh, kami coba jajaki. HTM-nya Rp50.000 untuk akhir pekan (sekarang masih diskon 50%) dan Rp30.000 untuk hari biasa. Ternyata di tanah seluas 1.2 hektar SQP ada beragam fasilitas atau area, antara lain:

  • Universe Amphitheater
  • Velocity Skate Park
  • Kids Playground
  • Paddy Field
  • Vertical Limit
  • The Twister Jr.

Igo, tak disangka, sangat menyukai Vertical Limit, area panjat dinding. Kami pikir ia akan superantusias dengan skate park secara belakangan ini dia sedang heboh-hebohnya mau beli skate board. Gya … cukup senang dengan bisa berlarian bebas ke sana kemari. Kurang antusias dengan ayunan tapi heboh dengan mainan semacam jungkat-jungkit. Igo coba in-line skate juga, harga sewa per unit Rp20.000 dan kalau mau beli kaus kaki di sana harganya Rp10.000. Dia cukup menikmati belajar in-line skate, Febri cukup gempor ngajarinnya, hahaha.

Cukup senang menghabiskan waktu di sana. Tanpa sakit kepala pun! Haha, penting buat saya. We definitely will come back to SQP.