Ketika Harus Menjadi Kenangan

Satu hal yang tidak saya sukai dari bertambahnya usia adalah bagaimana peluang saya kehilangan orang terkasih juga bertambah. Ya, saya tahu, kematian sifatnya pasti dan bisa datang kapan saja. Tapi paham, kan, maksudnya? Semakin kita menua, semakin menua pula orangtua kita … atau semakin besar peluang kita tutup usia. Belum lega rasanya hati ini dengan kepergian Nenek September lalu, sesak kembali menyusup karena kami harus menutup bab dengan Papa (nya saya) dan adik (nya Febri). 

Ajeng, yang usianya hanya terpaut satu tahun dengan kami, kembali ke pangkuan-Nya di hari ke-16 Ramadan tahun ini. Tengah malam kami bergegas ke RS meski akhirnya disambut dengan tubuh sudah yang terbujur kaku. Ia lelah. Dan saya tidak menyalahkannya. Banyak hal sudah ia lalui. Saya bersyukur kami berpisah dalam kondisi baik. Saya dan Febri bisa berkata bahwa kami sudah memberikan yang terbaik untuknya. Selama bertahun-tahun kebersamaan kami, belum pernah sekali pun saya melihat Febri menangis tersedu-sedu. Pagi hari itu, setelah ia keluar dari liang kubur untuk memakamkan adik satu-satunya, saya bisa lihat hatinya retak.

Febri dan Ajeng adalah dua saudara yang bertolak belakang. Febri pernah sebut bahwa entah bagaimana caranya, ia mau anak-anak kami harus dekat. Dia bilang dia tidak bisa ingat kenangan masa kecil di mana ia dan Ajeng bercanda seru sampai tertawa terkekeh-kekeh. Isinya hanya ribut melulu. Kondisi itu bertahan hingga mereka dewasa, bahkan menikah. Ia tidak mau anak-anak kami menjadi demikian. Beberapa tahun belakangan ini, saya lihat mereka mencoba sekuat tenaga untuk memperbaiki hubungan. Mungkin tidak serta merta membaik, tapi saya bersyukur mereka berani memulainya 🙂

Rupanya rencana Allah adalah Febri dan saya melalui masa duka bersamaan. Mungkin agar kami lebih menguatkan hati satu sama lain. Pada lebaran kedua, di saat kami bersiap-siap sowan ke rumah Eyang saya (tempat Papa tinggal), Tante menelepon dan menyampaikan bahwa Papa sudah tidak ada. I was so shocked.  Hubungan saya dan Papa jauh dari ideal. Saya punya alasan-alasan sendiri mengapa hubungan kami demikian, he knew and understood all of it. Tapi, beberapa tahun lalu, saya dan Febri berdiskusi kemudian sama-sama berjanji untuk mencoba memperbaiki hubungan dengan ayah masing-masing. Kalau saya mati gaya sowan ke Papa, Febri ‘masuk’ mencairkan suasana. Begitu juga sebaliknya. Lagi-lagi, saya bersyukur kami berani memulainya 🙂

Terpaut dua minggu, saya dan Febri menangis … tak hanya tangisan sedih, tetapi juga bahagia. Bahagia karena ketika Papa dan Ajeng pergi, kami semua sudah baik. Bahagia karena saya dan Febri masih diberi kesempatan untuk melakukan apa yang sudah menjadi kewajiban kami. Alhamdulillah ….

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s